Akal Yang Tunduk Pada Wahyu



Akal Yang Tunduk Pada Wahyu
Oleh : Wangsit Juniawan

            Manusia merupakan makhluk hidup unik yang dianugerahi dengan akal dan nafsu. Dengan dua anugerah utama itu manusia juga diberi kebebasan penuh untuk lebih memilih mengikuti satu diantara keduanya. Manusia bisa menjadi lebih buruk dari binatang ketika dia menuruti hawa nafsunya, tapi bisa menjadi lebih baik dari malaikat ketika lebih menuruti akalnya. Pilihan itu diserahkan kepada manusia itu sendiri karena kita adalah makhluk yang diberi kebebesan untuk memilih, tentunya hukum konsekuensi tetap berlaku. Lalu coba kita kaitkan anugerah utama yang dimiliki manusia dengan  mahasiswa sebagai penerus pimpinan bangsa.
            Pertama dalam kehidupan seorang mahasiswa yang sering disebut sebagai kaum intelektual sudah selakynya mendahulukan akalnya daripada nafsunya. Tidak jarang dari kaum ini yang masih memilih mendahulukan nafsunya(read: keinginan) daripada akalnya, contoh sederhananya yaitu budaya TA(read: titip absen). Jika dipikir nalar, masalah yang dianggap sederhana itu terjadi karena mahasiswa tersebut lebih mendahulukan keinginannya daripada akalnya. Masih banyak masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan jelas dampaknya merugikan diri. Keslahan-kesalahan sederhana dalam kehidupan  kampus ini sangat mempengaruhi kehidupan di masyarakat kelak, lebih luas lagi dalam kehidupan bernegara.  
            Mahasiswa merupakan reprsentasi dari pemuda dalam kehidupan sosial, yang sudah pasti akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Untuk mewujudkan negara dengan peradaban yang maju dibutuhkan generasi berkualitas. Pemuda lah yang mengemban tugas tersebut, menjadi pemuda yang siap bertanggungjawab membangun peradaban yang lebih baik. Mahasiswa sebagai warga kampus seharusnya bisa lahir ke dalam kehidupan bermasyarakat dengan membawa perubahan. Lahir menjadi generasi yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih adil dan beradab.
            Seperti sebait ungkapan bijak yang menyatakan bahwa “ Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang binasa”. Lalu pertanyaannya jika ungkapan itu dianalogikan dalam kehidupan bangsa hari ini, kita sebagai kaum muda akan membawa bangsa ini kemana? bangsa yang beruntung, merugi, atau binasa?. Renungkan sejenak kita sebagai kaum terpelajar sudah berapa tahun belajar dan sudah se-serius apa kita belajar? Sudah siapkah kita meneruskan peradaban bangsa, yang kita tahu sendiri kondisinya bangsa hari ini.
           
            Mengutamakan akal saja tentunya tidaklah elok bagi manusia yang ber-Tuhan, sebagai manusia kita harusnya sadar bahwa ada yang meciptakan akal. Tuhan menciptakan akal pada manusia berfungsi untuk membedakan benar dan salah bukan hanya sekedar untung dan rugi. Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change harusnya mampu membawa perubahan besar ketika terjun dalam kehidupan bernegara, tidak hanya memakai logika saja apalagi hanya mengikuti nafsu dalam bertindak. Ketika telah menjadi pimpinan bangsa hendaknya bertindak dengan akal yang disetir oleh wahyu, bukan disetir oleh kepentingan pribadi maupun golongan. Dengan itu tindakan yang diambil sudah pasti telah dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang, dan satu hal yang pasti yaitu tindakan yang adil, toleran, dan tidak menindas.
            Dalam Islam,  berfikir menggunakan akal dianggap sebagai bentuk ibadah yang tertinggi. Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:  “Mereka yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan tidur serta berfikir tentang kejadian langit dan bumi (lalu berkata), ‘Tuhan kami,  sesungguhnya Engkau tidak menjadikan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-Imran:191)
            Demikian juga kita dapat melihat pandangan Islam yang begitu tinggi terhadap penggunaan akal fikiran yang membawa kepada perkembangan sains dan teknologi. Meski Islam memberikan perhargaan yang tinggi terhadap akal, namun ia tidak boleh diletakkan di atas segala-galanya. Akal merupakan ciptaan Allah yang memiliki keterbatasan dan menempati posisi sebagaimana mestinya.
            Mulailah dari membaikan diri sendiri, jika masing-masing individu sudah baik maka masyarakat pun akan menjadi baik. Kemudian teruslah belajar dengan serius diiringi ketundukan akal pada titah Tuhan hingga tugas manusia sebagai khalifah di bumi terpenuhi. Jadilah generasi pintar yang hilang bodohnya bukan generasi pintar yang membodohi sesamanya.Bukan tidak mungkin dengan semua itu negeri ini menjadi baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.

Reference :
Al-Qur’an Surat Ali-Imran 3:191
Imam Al-Ghazali. Menyelami Hakekat Kedalaman Qolbu. 2011. Ustadz Labib Mz.BINTANG USAHA JAYA Surabaya.


Komentar

Postingan Populer