TEKNIK PRODUKSI PERTANIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM AGROEKOSISTEM HUTAN KOTA DAN TAMAN KOTA

MAKALAH
Teknologi Produksi Pertanian Perspektif Islam
AGROEKOSISTEM HUTAN KOTA & TAMAN KOTA
Disusun oleh:
Wangsit Juniawan
20150220230











PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

                                                                                                        BAB I                                                                                  PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

         Agroekosistem adalah komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan dengan lingkungannya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah oleh manusia untuk menghasilkan Pangan, pakan, serat, kayu bakar, dan produk- produk lainnya.
               Dalam agroekosistem terdiri dari dua komponen penyusun yaitu komponen biotik( makhluk hidup) dan komponen abiotik (makhluk tak hidup) yang didalamnya berinteraksi satu sama lain.Untuk komponen biotik  meliputi organisme tingkat tinggi maupun tingkat rendah.Dampak dari interaksi ini dapat menjadikan lingkungan hidup bersifat dinamis,sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an dalm Surah Al-Anam 6:141 yang artinya: “Dan Dia-lah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan tidak merambat,pohon kurma,tanaman yang beraneka ragam rasanaya,zaitun dan delima yang serupa(bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya).Makanlah buahnya apabila ia berubah dan berikanlah haknya(zakatnya pada waktu memetik hasilnya,tapi janganlah berlebih-lebihaan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.
            Dari berbagai komponen penyusun agroekosistem manusia adalah komponen yang sangat berperan dalam interaksi pada agroekosistem.Karena manusia adalah sebagai Khalifah yang dipilih oleh Allah untuk mengolah bumi dan seisinya.Ada beberapa agroekosistem yang terdapat dalam lingkungan sekitar.Tiap-tiap agroekosistem memiliki komponen-komponen yang berbeda-beda.Dimana semakin kompleks agroekisitem maka akan semakin banyak komponen penyusunnya.Dalam hal ini penulis akan mencoba memaparkan secara sederhana mengenai agroekosistem hutan kota dan agroekosistem taman kota.


1.2  Rumusan masalah

a.              Bagaimana konsep Agroekositem hutan kota dan taman kota.?
b.              Apa saja komponen-komponen di dalamnya.
c.              Bagaimana interaksi yang terjadi di dalamnya (terutama manusia).
d.             Apa saja indikator keberhasilan agroekosistem hutan kota dan taman kota.

1.3  Tujuan

a.              Mengetahui konspep Agroekositem hutan kota dan taman kota.
b.             Mengidentifikasi komponen-komponen di dalam agroekosistem hutan kota dan     taman kota.
c.              Mengetahui interaksi yang terjadi di dalamnya (terutama manusia).
d.             Mengetahui ndikator keberhasilan agroekosistem hutan kota dan taman kota.

1.4  Manfaat

                     Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat dalam menjalankan(menerapkan) dalam
agroekositem  hutan kota dan taman kota pada khususnya dan agroekosistem secara luas pada umumnya.Dan semoga dapat bermanfaat bagi penulis dalam perkuliahan dan para pembaca sebagai sumber referensi.

















                        BAB II                        

PEMBAHASAN

2.1 Agroekosistem Hutan Kota

a.      Konsep

        Definisi atau rumusan hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya. Odum (1983) 10 mengemukakan bahwa jaringan dari komponen-komponen dan proses yang terjadi pada lingkungan merupakan sistem. Sistem lingkungan hidup biasanya meliputi daratan atau air, misalnya hutan, danau, lautan, lokasi pertanian, perkotaan, regional, desa dan biosfer. Dibawah ini adalah gambaran suatu konsep hutan kota. Haeruman 11 mengemukakan bahwa hutan kota terletak jauh di luar batas kota, sepanjang interaksi yang intensif antara penduduk sebuah kota dengan hutan tersebut berlangsung secara terus menerus. Sebagai contoh Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda di Bandung dan Tahura Dr. Muh. Hatta di Padang dan di Bengkulu sedang dalam taraf pembangunan. Idealnya sebuah hutan kota dapat mencapai kondisi optimum sebagaimana layaknya hutan yang terbentuk karena peristiwa alam. Namun sesuai dengan nilai-nilai urbanity 10
Odum, E.P, 1983. Basic Ecology. London, Saunders College 11 Lihat halaman 6
            Lokasi hutan kota dapat dirancang sesuai dengan fungsi hutan kota. Besarnya bobot tiap fungsi landsekap, fungsi pelestarian lingkungan dan fungsi estetika berbeda-beda tergantung pada lokasi peruntukkan. Menurut Grey dan Deneke (1978) dan Wirakusumah (1987) 14 peranan hutan kota berdasarkan lokasi peruntukkan aktivitas kota, dapat dibagi menjadi : 1. Hutan kota konservasi 2. Hutan kota industri 3. Hutan kota wilayah permukiman 4. Hutan kota wisata dan 5. Hutan kota tangkar satwa Bentuk dan struktur hutan kota dapat menurunkan suhu, kebisingan dan debu serta dapat meningkatkan kelembaban. Fungsi ini sangat menentukan dalam pengelompokkan hutan kota sehingga dapat digunakan sebagai penciri dalam pengelompokkannya. Hasil penelitian Zoer’aini Djamal Irwan (1994)15, hutan kota dapat dikelompokkan berdasarkan kepada bentuk dan strukturnya.



b.      Komponen Penyusun

1.      Komponen Biotik
Ø  Manusia
Manusia merupakan factor komponen biotik yang paling kuat, karena manusia yang bisa mengatur atau mengolah semua yang ada di bumi. Dalam hal ini, yang mengolah tegalan adalah manusia. Bukan hanya agroekosistem tegalan saja yang harus diolah, tapi semua agroekosistem
Ø  Organisme  tanah
Organisme Tanah (soil organism) adalah semua jasad hidup yang terdapat di dalam tanah atau disebut juga dengan organisme hidup (living organisme).
Ø Tumbuhan/vegetasi
Pohon merupakan vegetasi utama penyusun hutan kota. Di dalam hutan kota terdapat unsur vegetasi rumput, tumbuhan bawah, semai, pancang, tiang, dan pohon. Unsur lain dapat berupa liana, epifit, parasit, dan lain-lain. Pohon mendominasi vegetasi di hutan kota karena fungsi utama hutan kota yaitu membentuk iklim mikro di perkotaan.
2.    Komponen Abiotik
Ø  Cahaya matahari
Cahaya matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Cahaya matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.
Ø  Kelembaban
Kelembapan udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan asalkan kadar air cukup tersedia di dalam tanah  optimumnya.
Ø  Suhu
Pada semua ekosistem, suhu sangat berpengaruh. Karena di ekosistem yang berbeda suhu akan berbeda. Seperti pada hutan kota, memiliki suhu yang cukup lembab, sehingga jenis tanaman yang dapat ditanam sangat bervariasi.
Ø  Tanah
Tanah memiliki unsur hara yang cukup banyak sehingga akan mendukug proses pertumbuhan vegetasi yang ditanam di hutan kota


c.                   Interaksi dalam Agroekosistem

Ø Interaksi antar komponen abiotik
            Komponen abiotik dapat memengaruhi komponen abiotik lain secara timbal balik. Sebagai contoh jika intensitas cahaya matahari yang mengenai suatu perairan meningkat mengakibatkan laju penguapan meningkat. Dari peristiwa tersebut terbentuklah awan yang apabila dalam jumlah banyak dapat menghalangi sinar matahari ke bumi, sehingga intensitas cahaya matahari ke bumi berkurang,
Ø Interaksi antara komponen abiotik dengan biotik
            Komponen abiotik dapat memengaruhi komponen biotik dalam ekosistem, demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh setiap tumbuhan mengambil air dari lingkungannya (dari dalam tanah), tapi tumbuhan juga membebaskan air ke lingkungan (ke udara) dalam bentuk uap air. Bersama uap air dari sumber yang lain, akan terbentuk awan dan turun sebagai hujan. Akhirnya air meresap ke dalam tanah (kembali lagi ke tanah)..
Ø  Interaksi antara komponen manusia dengan komponen biotik
            Manusia berperan dalam mengolah komponen biotik dan komponen abiotik.Misalnya manusia melakukan pembukaan lahan dengan cara mengolah terlebih dahulu  lahan tersebut,mulai dari pemupukan dan perawatan.Kemudian manusia secara terus menerus akan memanfaatkan  lahan tersebut dengan cara memperbaharuinya setelah diambil hasilnya  

d.   Indikator keberhasilan Agroekosistem

Ø  Produktivitas
Tingkat produksi agroekosistem hutan kota sangat rendah,dengan alasan bahwa tujuan  dibuatnya  agroekosistem bukanlah untuk diambil hasil produksinya.Tujuan dari dibuatnya    agroekosisetem ini adalah diambil manfaat estetikanya dan manfaat langsung bagi l        ingkungan,yaitu  sebagai tempat hiburan dari segi estetikanya dan sebagai penghasil oksigen di daerah perkotaan,sebagai tempat resapan air dan sebagainya dari segi manfaat langsungnya.
Ø  Stabilitas
Stabilitasnya rendah karena vegetasi yang ditanam pada hutan kota pada umumnya adalah tanaman-tanaman tahunan yang memiliki umur sangat lama dalam proses pertumbunhan.



Ø  Ekuitabilitas
Ekuitabilitasnya rendah karena penerapan agroekosistem ini tidak bisa diterapkan oleh petani secara umum.Hanya dapat dilakukakn oleh individu/petani yang benar-benar memahami tentang agroekosistem hutan kota ini mulai dari rancangan pembutan,pemeliharaan,sampai pada memanfaatkan hutan kota.Dikatakan rendah juga dikarenakan tidak seimbangnya biaya yang dikeluarkan dengan  waktu untuk memanfaatkan hasil  yang diperoleh dimana biaya yang dikeluarkan relatife banyak namun untuk memanfaatkan hasilnya butuh waktu yang sangat lama.
Ø  Keberlanjutan
Terjadi keberlanjutan yang lambat,karena pada umumnya vegetasi yang ditanam memiliki waktu untuk tumbuh yang cukup lama.

2.2 Agroekosistem Taman Kota

a.        Konsep

            Taman kota adalah ruang terbuka diberbagai tempat suatu wilayah kota yang secara optimal digunukan  sebgai areal penghijauan dan berfungsi baik secara langsung maupun tidak langsung,untuk kehidupan dan kesejahteraan warga kotanya.Di dalam penataan ruang perkotaan  maka pengembangan taman kota harus menjadi komponen penting pola ruang kota.keberadaan taman kota sangat penting dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lanskap perkotaan.                Taman kota merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH).Ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka yang terbentuk secara alamiah dan merupakn jaringan atau sistem serbaguna dari ruang-ruang yang berhubungan erat dengan  pengembangan dalam suatu areal dalam skala yang luas.Menurut de Chiaa & Lee Kopellman (1969);ruang terbuka hijau berfungsi untuk mempertahankan karakter kota dengan  fungsi sebagai hutan kota dan taman kota.Taman kota merupakan wahana keanekaragaman hayati yang harus diupayakan semaksimal mungkin  menjadi suatu komunitas  vegetasi yang tumbuh di lahan kota dengan struktur  menyerupai hutan alam dan membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa (Zoer’aini 1997)

b.      Komponen Penyusun

1.Komponen Biotik

Ø  Manusia
              Manusia adalah kompone biotik yang paling berperan dalam agroekosistem taman kota,karena manusia menjadi pengolah komponen-komponen abiotik dan dari pengolahan             tersebut akan menghasilkan hasil berupa taman kota yang dimanfaatkan manusia secara estetis.
Ø   Organisme  tanah
Organisme Tanah (soil organism) adalah semua jasad hidup yang terdapat di dalam tanah atau disebut juga dengan organisme hidup (living organisme).

2.Komponen Abiotik

Ø Cahaya matahari
Komponen biotik membutuhkan cahaya matahari untuk mendukung  proses pertumbuhan.Pada manusia cahaya matahari bermanfaat munsuply vitamin D.Pada vegetasi /tumbuhan cahaya matahari bermanfaat pada proses fotosintesis.Dari proses fotosintesi tersebut tumbuhan akan menghasilkan oksigen yang akan dimanafaatkan oleh manusia untuk bernafas dan memberi kesan sejuk sebagai manafaat estetikanya.
Ø  Suhu
Suhu pada taman kota sedang yaitu tidak terlau panas dan tidak terlalu dingin.Hal ini terjadi karena keberadaan cahaya matahari dan vegetasi yang ada cukup seimbang.
Ø  Kelembaban
Secara umum tingkat kelembaban pada area taman kota berkisar anatara 70%-80%.Sehingga udara di area taman kota tidak terlalu lembab.
Ø  Air
Komponen air pada agroekosistem taman kota ini secara umum adalah rekayasa/buatan manusia.Pada umumnya air di taman kota di salurkan melalui pipa-pipa atau slang yang digunakan untuk menyirami tanaman.Ada juga air secara alami yaitu air yang bersumber dari air  hujan yang terserap oleh tanah dan menjdi air tanah.Namun air tanah ini tidak berperan secara maksimal pada agroekosistem taman kota
Ø  Tanah
Tanah menjadi media tumbuh dan berkembangnya organisme tanah.Sebagai misal untuk pertumbuhan pohon ,rumput,tanaman hias,cacing  dan sebagainya.Di dalam tanah juga terjadi interaksi antara komponen biotik dan abiotik.Sebagai misal interaksi tanah dengan cacing atau daun busuk dengan cacing kemudian dari akibat interaksi ini akan menghasilkan unsur hara yang akan diambil oleh tumbuhan sebagai penyumbang proses pertumbuhan.





c.    Interaksi dalam Agroekosistem

Ø Interaksi antar komponen abiotik
            Komponen abiotik dapat memengaruhi komponen abiotik lain secara timbal balik. Sebagai contoh jika intensitas cahaya matahari yang mengenai suatu perairan meningkat mengakibatkan laju penguapan meningkat. Dari peristiwa tersebut terbentuklah awan yang apabila dalam jumlah banyak dapat menghalangi sinar matahari ke bumi, sehingga intensitas cahaya matahari ke bumi berkurang,
Ø Interaksi antara komponen abiotik dengan biotik
            Komponen abiotik dapat memengaruhi komponen biotik dalam ekosistem, demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh setiap tumbuhan mengambil air dari lingkungannya (dari dalam tanah), tapi tumbuhan juga membebaskan air ke lingkungan (ke udara) dalam bentuk uap air. Bersama uap air dari sumber yang lain, akan terbentuk awan dan turun sebagai hujan. Akhirnya air meresap ke dalam tanah (kembali lagi ke tanah)..
Ø  Interaksi antara komponen manusia dengan komponen biotik
            Manusia berperan dalam mengolah komponen biotik dan komponen abiotik.Misalnya manusia melakukan pembukaan lahan dengan cara mengolah terlebih dahulu  lahan tersebut,mulai dari pemupukan dan perawatan.Kemudian manusia secara terus menerus akan memanfaatkan  lahan tersebut dengan cara memperbaharuinya setelah diambil hasilnya

d.      Indikator keberhasilan Agroekosistem

Ø  Produktivitas
Tingkat produksi agroekosistem taman sangat rendah,dengan alasan bahwa tujuan  dibuatnya  agroekosistem bukanlah untuk diambil hasil produksinya.Namun dari segi estetika taman kota ini memiliki manfaat yang banyak diantaranya untuk tempat rekreaksi.Selain itu juga sebagi tempat resapan air di daerah perkotaan.
Ø  Stabilitas
Stabilitasnya rendah karena vegetasi yang ditanam pada hutan kota pada umumnya adalah tanaman-tanaman tahunan,adapun beberapa tanaman hias yang ditanam




Ø  Ekuitabilitas
Ekuitabilitasnya rendah karena penerapan agroekosistem ini tidak bisa diterapkan oleh petani secara umum.Hanya dapat dilakukakn oleh individu/petani yang benar-benar memahami tentang agroekosistem hutan kota ini mulai dari rancangan pembutan,pemeliharaan,sampai pada memanfaatkan hutan kota.Dikatakan rendah juga dikarenakan tidak seimbangnya biaya yang dikeluarkan dengan  waktu untuk memanfaatkan hasil  yang diperoleh dimana biaya yang dikeluarkan relatife banyak namun untuk memanfaatkan hasilnya butuh waktu yang sangat lama.
Ø  Keberlanjutan
Terjadi keberlanjutan yang lambat,karena pada umumnya vegetasi yang ditanam memiliki waktu untuk tumbuh yang cukup lama.





                              BAB III                      

PERBANDINGAN  AGROEKOSISTEM HUTAN KOTA DAN TAMAN KOTA

A. PERBANDINGAN

                 Perbandingan  antara hutan kota dengan taman kota sangat sedikit sekali, karena kedua agroekosistem ini memiliki banyak kesamaan baik dari segi produktivitas,stabilitas,kemerataan,maupun keberlanjutan.Kesamaan ini terjadi  karena lingkungan agroekosistem yang sama,tujuan pembukaan hutan kota dan taman kota.Perbedaan hanya terletak pada sistem rancangan atau tata letak dari kedua agroekosistem ini.Dimana hutan kota dalam pembuakaanya tidak diatur sedemikian rupa hanya dibiarkan tumbuh secara alami.Lain halnya dengan taman kota yang dirancang sedemikian rupa dalam proses pembukaan maupun perawatanya.Dari segi tujuan pembangunan hutan kota lebih ditujukan sebagai sarana penghijauan kota sedangkan taman kota lebih kepada manfaat estetisnya,namun keduanya sangat berperan dalam penghijaun kota dan sebagai tempat resapan air di daerah perkotaan.

B.KESIMPULAN

        Berdasarkan analisis penulis dari indikator produktivitas yang rendah,stabilitas yang rendah,kemerataan yang relatif tidak merata,dan keberlanjutan yang lambat maka agroekositem hutan kota dan taman kota tidak diperuntukan sebagai agroekosistem pertanian yang bisa diambil hasilnya.Kedua agroekosistem tersebut lebih tepat untuk diambil manfaat estetisnya dan sebagai penyeimbang ekosistem lingkungan.Meskipun secara indikator keberhasilan di atas hutan kota dan taman kota tidak memenuhi syarat,namun disisi lain agroekosistem ini memiliki manfaat yang besar lebih dari hasil yang berupa produk yaitu terciptanya keseimbangan ekosistem perkotaan.Hal ini berdampak sangat ositif karena dewsa ini secara umum perkotaan di Indonesia lebih banyak tecemar polusi.




DAFTAR PUSTAKA

·         http://repository.usu.ac.id/ diakse tanggal 2 Maret 2016 Pukul 16:52 WIB
·         http://cpanel.petra.ac.id/ diakse tanggal 2 Maret 2016 Pukul 16:52 WIB
·         Sundari, Eva Siti. "Studi Untuk Menentukan Fungsi Hutan Kota Dalam Masalah          Lingkungan Perkotaan." Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA 7.2 (2010): pp-68.
·         http://eprints.undip.ac.id/ diakse tanggal 2 Maret 2016 Pukul 16:52 WIB


 

Komentar

Postingan Populer